Pada tahun 1842 , masyarakat citorek atau biasa di sebut dengan masyarakat kesepuhan citorek,yang berasal dari guradog kecamatan curug bitung,
Pada zaman dahulu para kesepuhan mengadakan musyawarah yang bertempat di guradog yang di pimpin oleh kesepuhan yang bernama, aki buyut sainta , dan hasil musyawarah itu menentukan atau mencari lahan yang luas untuk mendirikan pemukiman dan ladang, kesepuhan tersebut mengutus 10 orang untuk mencari lahan itu , lamanya perjalanan tiga hari tiga malam untuk mencari lahan tersebut, sesudah tiga hari tiga malam itu orang yang di perintahkan belum ketemu air (sungai).
Sudah tiga hari baru ketemu sungai yang di cari selama ini, sesudah di tumukan sungai itu orang-orang yang di perintahkan itu langsung memberitahukan kepada para sesepuh bahwa ada sungai yang sama sekali tidak kedengaran suaranya yang kemudian di beri nama CITOREK,
Sesudah berhasil orang -orang suruhan tadi di suruh pulang oleh para sesepuh, jarak perjalanan cepat 2(dua) hari l(satu) malam tiba di guradog, dan para sesepuh mengadakan musyawarah lagi tetapi musyawarah tersebut di tunda selama 4 (empat) tahun ,4 (empat) tahun kemudian masyarakat kesepuhan guradog, mengumumkan hasil musyawarah tersebut, dan hasilnya masyarakat akan menetap di CITOREK,
Pada tahun 1846 tujuan mereka meninggalkan guradog adalah mencari lahan yang luas di sebelah selatan yang sering di sapa "gunung keneng " untuk mengembangkan pertanian sesuai dengan wangsit dari leluhur sejak dari guradog.
Mereka sudah tahu bahwa akan menuju suatu wilayah yang akan menjadi memengkon (wilayah adat) wilayah adat tersebut di tandai mulai dari parakan saat di sebelah timur , pasir sage di sebelah barat, dan gunung keneng di sebelah utara .Pada mulanya datang ke citorek hanyalah bertani bikin huma, dari tahun 1846 sampai tahun 1930, itu bertani huma, dari tahun 1930 ketika jaro Negara di pegang oleh RATAM, sesuai wangsit leluhur pada tahun 1964 masyarakat kesepuhan citorek sempat pindah ke ciawitali dan pada awal tahun 1966 masyarakat citorek kembali lagi ke citorek untuk menetap di citorek, sampai sekarang.
Masyarakat meyakini bahwa mereka adalah "keturunan pangawinan" (masyarakat kesepuhan di wilayah kidul kecamatan bayah dan cibeber, cikotok) Dan sejarah kepemimpinan masyarakat kesepuhan citorek meyakini bahwa kesepuhan citorek merupakan masyarakat yang bernegara, bermasyarakat dan ber adat , sebagai wujud dari keyakinan tersebut mereka memiliki kepemimpinan yang mewakiSi ketiga perinsip tersebut, yaitu kesepuhan sebutan untuk kepemimpin kesepuhan yaitu (oyok), jaro kolot (jaro adat) penghulu (pimpinan agama) jaro Negara sekarang di sebut keapala desa, dan baris kolot.
Dalam perkembangan di citorek di angkatlah jadi jaro Negara yaitu jaro RATAM, yang kemudian jaro MARJA'I menjadi jaro kolot.
Kesepuhan ini di wariskan secara turun- temurun, dan tidak bisa di gantiakn begitu saja selama orang yang di wariskan tersebut masih ada, dan hanya kematian yang bisa menggantikan nya,
Pada masa jabatan jaro nurkib atau yang biasa di sebut sekarang kepala desa , desa citorek di pekarkan menjadi 2(dua) desa yaitu desa citorek dan ciparay, ciparay menccakup wilayah baru dimana bermukim kesepuhan dan baris kolot, pada saat itu desa citorek di duduki 15.465 orang jiwa sebagian besar menetap di wewengkon citorek, MASYARAKAT KESEPUHAN CITOREK